Munafik (Part 1): 10 Sifat Orang Munafik dalam Al-Quran


Kata “munafik” berasal dari kata “nifaq” artinya menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan, atau dengan kata lain berpura-pura seperti perilaku seorang mukmin akan tetapi di dalam hatinya terdapat keraguan dan kekafiran. Maka kemunafikan adalah ketidaksesuaian antara pengakuan sebagai seorang mukmin dengan perbuatannya.

Menurut Ibnu Juraij, orang munafik ialah orang yang ucapannya bertentangan dengan perbuatannya, keadaan batinnya bertentangan dengan sikap lahiriahnya, bagian dalamnya bertentangan dengan bagian luarnya, dan penampilannya bertentangan dengan kepribadiannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Ibnu Katsir juga menerangkan bahwa sifat munafik itu bermacam-macam, ada yang berkaitan dengan akidah; jenis ini menyebabkan pelakunya kelak di dalam neraka. Ada yang berkaitan dengan perbuatan, jenis ini merupakan salah satu dari dosa besar.

Orang munafik merupakan musuh yang sangat berbahaya bagi jamaah kaum muslimin. Hal ini disebabkan karena orang munafik secara lahiriahnya mengaku beriman, padahal dalam hatinya memendam kebencian dan permusuhan terhadap kaum muslimin. Inilah yang berpotensi besar untuk merusak dan menghancurkan kekuatan kaum muslimin.

Jika orang kafir menunjukkan perlawanannya secara nyata, orang munafik melawan Islam secara tersembunyi. Jika orang kafir menyerang dari luar jamaah kaum muslimin, orang munafik justru menyerang dari dalam. Oleh sebab itu, Allah akan menempatkan orang-orang munafik di neraka yang paling dalam.

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (QS. An-Nisa’ [4]: 145).

TANDA-TANDA DAN SIFAT-SIFAT ORANG MUNAFIK
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan setidaknya ada tiga tanda-tanda orang munafik, yaitu:

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ آيَةُ الۡمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخۡلَفَ وَإِذَا اؤۡتُمِنَ خَانَ. – رواه البخاري
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tanda-tanda munafik ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia berkhianat." (H.R. Al-Bukhari No. 33).

Allah telah menunjukkan dengan jelas  sifat-sifat orang munafik agar kita  selalu waspada terhadap mereka; tidak ada bagian-bagian sifat orang munafik yang tersembunyi, kecuali semuanya dibongkar oleh Allah di dalam al-Quran. Siapa saja yang bersifat demikian, maka telah jelas bahwa ia telah tersesat dan merugi yang sebenar-benarnya.

Berikut adalah sepuluh sifat-sifat orang munafik yang telah disebutkan dalam al-Quran:

1. Mereka berupaya menipu Allah dan orang-orang beriman.

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩

"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar." (QS. Al-Baqarah [2]: 9).

Orang-orang munafik merasa bahwa mereka telah berhasil menipu Allah dan menipu orang-orang beriman. Padahal yang sebenarnya ialah bahwa mereka hanya menipu diri mereka sendiri.

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman karena mereka hanya menampakkan keimanannya pada lahiriahnya saja, sedangkan batin mereka memendam kekufuran. Karena kebodohan mereka sendiri, mereka menduga bahwa mereka telah menipu Allah dengan sikap mereka itu.
2. Mengaku berbuat baik, padahal mereka berbuat kerusakan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ  ١١

"Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan"." (QS. Al-Baqarah [2]: 11).

As-Saddi dalam kitab tafsirnya menukil riwayat dari Ibnu Mas'ud dan dari sejumlah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang lain bahwa maksud kerusakan di bumi adalah perbuatan kekufuran dan maksiat.

Ibnu Juraij juga meriwayatkan dari Mujahid tentang ayat ini bahwa menurut beliau, "apabila mereka mengerjakan maksiat, dikatakan kepada mereka, "Janganlah kalian melakukan maksiat ini dan maksiat itu." Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami berada di jalan hidayah dan sebagai orang-orang yang mengadakan perbaikan."

Namun pernyataan orang-orang munafik itu dibantah oleh Allah dalam firman-Nya:

أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢

"Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (QS. Al-Baqarah [2]: 12).

Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa hal yang mereka duga sebagai perbaikan dan perdamaian itu justru merupakan kerusakan. Tetapi karena kebodohan mereka, mereka tidak merasakan hal itu sebagai kerusakan.

3. Mengaku beriman hanya ketika bersama orang beriman.

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَهۡزِءُونَ ١٤

"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok"." (QS. Al-Baqarah [2]: 14).

Mereka menampakkan kepada orang mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan orang mukmin. Akan tetapi, sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabuhi kaum mukmin dan diplomasi mereka untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat kebaikan yang diperoleh orang mukmin.

As-Saddi mengatakan dari Abu Malik, bahwa maksud dari "setan-setan mereka" adalah pemimpin dan pembesar mereka yang terdiri atas kalangan pendeta Yahudi, pemimpin-pemimpin kaum musyrik dan kaum munafik.

Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu. Orang munafik mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya mengolok-olok dan mengejek teman-teman Muhammad." Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi' bin Anas dan Qatadah.

Sebagai bantahan dari perbuatan orang-orang munafik itu, Allah berfirman:

اَللَّهُ يَسۡتَهۡزِئُ بِهِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ١٥

"Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (QS. Al-Baqarah [2]: 15).

Ibnu Jarir mengatakan pula, bahwa ulama lainnya berpendapat bahwa ejekan Allah terhadap mereka berupa celaan dan penghinaan dari Allah terhadap mereka karena telah durhaka dan kafir kepada-Nya.

4. Ucapannya sangat indah untuk menipu manusia.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ٢٠٤ 

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥

"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (darimu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan." (QS. Al-Baqarah [2]: 204-205).

Menurut Qatadah, ayat ini mengandung celaan terhadap semua orang munafik secara keseluruhan. Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Mujahid, Rabi' bin Anas dan yang lainnya; pendapat inilah yang shahih.

Adapun firman Allah:

وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِ
"... dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya..."

Menurut jumhur ulama, makna yang dimaksud ialah bahwa dia menampakkan keislamannya di mata manusia, sedangkan Allah mengetahui kekufuran dan kemunafikan yang dipendam di dalam hatinya.
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah apabila dia ingin menampakkan keislamannya di mata orang-orang, maka ia bersumpah dengan nama Allah untuk mendapat kepercayaan dari mereka bahwa ucapan lisannya sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Pengertian inilah yang sahih, dikatakan oleh Abdur Rahman bin Zaid Aslam dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu, dan Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui Mujahid.

Bahkan apabila orang-orang munafik itu diberi nasihat untuk kembali bertakwa kepada Allah, mereka justru menjadi sombong.

وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتۡهُ ٱلۡعِزَّةُ بِٱلۡإِثۡمِۚ فَحَسۡبُهُۥ جَهَنَّمُۖ وَلَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ 

"Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya." (QS. Al-Baqarah [2]: 206).

Ibnu Katsir menjelaskan, apabila orang yang durhaka ini diberi nasihat agar mengubah bicara dan perbuatannya, maka ia menolak dan membangkang, timbullah rasa fanatisme dan kemarahannya yang menyebabkan dia melakukan dosa.

5. Bersedih ketika orang mukmin mendapat kebaikan, dan bergembira jika orang mukmin mendapat musibah.

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ١٢٠

"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali 'Imran [3]: 120).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keadaan ini menunjukkan kerasnya permusuhan mereka terhadap orang mukmin. Yaitu apabila orang mukmin mendapat kemakmuran, kemenangan, dukungan, dan bertambah banyak jumlahnya serta para penolongnya berjaya, maka hal tersebut membuat susah hati orang-orang munafik.

Tetapi jika orang muslim tertimpa paceklik atau dikalahkan oleh musuh-musuhnya, hal ini mereka anggap sebagai hikmah dari Allah. Seperti yang terjadi dalam Perang Uhud, orang-orang munafik merasa gembira akan hal tersebut.

Allah memberikan petunjuk kepada kaum mukmin jalan keselamatan dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu muslihat orang-orang zalim, yaitu dengan cara bersabar dan bertakwa serta bertawakal kepada Allah. Maka tidak ada daya dan upaya bagi orang mukmin kecuali dengan pertolongan Allah.
Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:

إِن تُصِبۡكَ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡۖ وَإِن تُصِبۡكَ مُصِيبَةٞ يَقُولُواْ قَدۡ أَخَذۡنَآ أَمۡرَنَا مِن قَبۡلُ وَيَتَوَلَّواْ وَّهُمۡ فَرِحُونَ

"Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: "Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang)" dan mereka berpaling dengan rasa gembira." (QS. At-Taubah [9]: 50).

6. Menolak hukum Allah.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ رَأَيۡتَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُودٗا ٦١

"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu." (QS. An-Nisa’ [4]: 61).

Secara garis besar, ayat ini mengatakan celaan terhadap orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu ia menyerahkan keputusan perkaranya kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu kepada kebatilan. Mereka lebih mengutamakan hukum yang mereka buat sendiri dan mengesampingkan hukum Allah dan Rasul-Nya.

7. Mereka ingin menipu Allah: shalat dengan riya'.

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa’ [4]: 142).

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa demikianlah gambaran sifat orang-orang munafik dalam melakukan amal yang paling mulia lagi paling utama, yaitu shalat. Jika mereka shalat, mereka berdiri dengan penuh kemalasan; karena tiada niat dan iman bagi mereka untuk melakukannya, tiada rasa takut, dan tidak memahami makna salat yang sesungguhnya.

Mereka juga bermaksud riya' dengan shalat mereka. Tiada keikhlasan bagi mereka, dan amal mereka bukan karena Allah, melainkan hanya ingin disaksikan oleh manusia; mereka melakukannya hanya dibuat-buat. Karena itu, mereka sering sekali meninggalkan salat yang sebagian besarnya tidak kelihatan di mata umum, seperti salat Isya di hari yang gelap, dan salat Subuh di saat pagi masih gelap.

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَثۡقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الۡمُنَافِقِيۡنَ صَلَاةُ الۡعِشَاءِ وَصَلَاةُ الۡفَجۡرِ وَلَوۡ يَعۡلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوۡهُمَا وَلَوۡ حَبۡوًا . – رواه البخاري ومسلم
"Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun harus merangkak." (H.R. Al-Bukhari No. 657 dan Muslim No. 651).

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَخۡوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيۡكُمُ الشِّرۡكُ الأَصۡغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوۡلُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعۡمَالِـهِمۡ اِذۡهَبُوۡا إِلَى الَّذِينَ كُنۡتُمۡ تُرَاؤُوۡنَ فِيۡ الدُّنۡيَا فَانۡظُرُوۡا هَلۡ تَجِدُوۡنَ عِنۡدَهُمۡ جَزَاءً . – رواه أحمد
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan berkata kepada mereka di hari kiamat ketika memberikan balasan atas amal-amal manusia: "Pergilah kepada orang-orang yang dulu kau perlihatkan amalmu pada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka?" (H.R. Ahmad No. 22528).

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

قال اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغۡنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرۡكِ مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا أَشۡرَكَ فِيۡهِ مَعِيۡ غَيۡرِيۡ تَرَكۡتُهُ وَشِرۡكَهُ . – رواه مسلم و إبن ماجه
"Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, "Aku adalah sekutu yang tidak butuh sekutu lainnya. Barang siapa beramal dengan menyekutukan-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya." (H.R. Muslim No. 2985 dan Ibnu Majah No. 4202).

8. Amar munkar nahi ma’ruf.

ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَهُمۡۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَهُمۡۚ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٦٧

"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik." (QS. At-Taubah [9]: 67).

Melalui ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa sifat orang munafik bertolak belakang dengan orang mukmin. Orang mukmin senantiasa menyeru kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar (amar ma'ruf nahi munkar), sedangkan orang munafik senantiasa menyeru kepada yang munkar dan melarang dari yang ma'ruf.

Sedangkan maksud dari "menggenggam tangannya" adalah tidak mau berinfak di jalan Allah. (Tafsir Ibnu Katsir).

9. Selalu mencela orang-orang yang beramal saleh.

ٱلَّذِينَ يَلۡمِزُونَ ٱلۡمُطَّوِّعِينَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ فِي ٱلصَّدَقَٰتِ وَٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهۡدَهُمۡ فَيَسۡخَرُونَ مِنۡهُمۡ سَخِرَ ٱللَّهُ مِنۡهُمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٧٩

"(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih." (QS. At-Taubah [9]: 79).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tidak ada yang luput dari celaan dan cemoohan orang-orang munafik dalam semua keadaan. Bahkan orang yang taat bersedekah pun tak luput dari celaan mereka. Jika ada yang bersedekah dalam jumlah banyak, orang munafik akan berkata: "dia pamer". Jika ada yang bersedekah dengan jumlah sedikit, mereka akan berkata: "Allah Maha Kaya dari sedekah orang ini."

10. Mendekati musuh Islam untuk mencari perlindungan.

فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يُسَٰرِعُونَ فِيهِمۡ يَقُولُونَ نَخۡشَىٰٓ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٞۚ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأۡتِيَ بِٱلۡفَتۡحِ أَوۡ أَمۡرٖ مِّنۡ عِندِهِۦ فَيُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَآ أَسَرُّواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ نَٰدِمِينَ ٥٢

"Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka." (QS. Al-Maidah [5]: 52).

Ini adalah strategi licik dari orang-orang munafik. Mereka mendekati orang-orang kafir dengan tujuan apabila nanti orang kafir itu menjadi penguasa, maka orang-orang munafik akan terlindungi.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka melakukan demikian karena takut akan terjadi suatu perubahan, yaitu orang-orang kafir beroleh kemenangan atas kaum muslimin. Jika hal ini terjadi, berarti mereka akan memperoleh perlindungan dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, mengingat orang-orang Yahudi dan Nasrani mempunyai pengaruh tersendiri di kalangan orang-orang kafir, sehingga sikap berteman akrab dengan mereka dapat memberikan manfaat ini.

Penjelasan tersebut semakin menunjukkan bahwa sebenarnya orang-orang munafik hanyalah sekumpulan pengecut.

Demikian ciri-ciri dan sifat-sifat orang munafik yang Allah sebutkan dalam al-Quran. Semoga itu cukup bagi kita untuk mewaspadainya sehingga kita juga dapat terhindar dari bibit-bibit penyakit kemunafikan ini. Wallahu A’lam...

PENYEBAB TIMBULNYA SIFAT MUNAFIK

1. Dengki
Orang yang dengki adalah mereka yang tidak suka terhadap orang lain yang mendapat kebaikan. Ia bahkan berusaha supaya kebaikan tersebut dapat berpindah kepadanya. Mereka juga akan merasa senang bila ada orang lain yang tertimpa musibah. Hal ini telah dijelaskan sebelumnya dalam sifat-sifat orang munafik yang ke-5. Sifat yang serupa dengan dengki adalah sifat iri.

2. Khianat
Sifat khianat memang sudah menjadi ciri-ciri orang munafik, sebagaimana hadits yang telah disebutkan di awal pembahasan ini. Sifat khianat adalah hasil dari kelalaian dan ketidakmampuan seseorang dalam menjaga amanah dan kepercayaan dari orang lain. Dari sinilah muncul istilah 'musuh dalam selimut'. Seolah-olah mereka dapat dipercaya, namun kenyataannya mereka adalah pengkhianat.

3. Riya’ (Pamer)
Orang yang riya’ adalah mereka yang beramal bukan untuk Allah. Melainkan mereka ingin agar amalnya dapat dilihat dan diketahui oleh orang lain. Hal ini juga telah disebutkan sebelumnya dalam sifat-sifat orang munafik yang ke-7.

4. Takabur (Sombong)
Sifat sombong pertama kali dilakukan oleh Iblis. Orang yang sombong cenderung merasa lebih baik dibandingkan orang lain, tidak mau dinasihati dan juga suka merendahkan orang lain. Sebagaimana hadits dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

... اَلۡكِبۡرُ بَطَرُ الۡحَقِّ وَ غَمۡطُ النَّاسِ . – رواه مسلم
"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (H.R. Muslim No. 91).

وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتۡهُ ٱلۡعِزَّةُ بِٱلۡإِثۡمِ ...

"Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa..." (QS. Al-Baqarah [2]: 206).

Hal ini juga telah dijelaskan sebelumnya pada sifat-sifat orang munafik yang ke-4.

Dengki, khianat, riya’ dan takabur, semuanya adalah bentuk penyakit hati. Bila dibiarkan, maka penyakit ini akan bertambah parah dan akhirnya membuat pelakunya menjadi orang munafik.

Dari Amir berkata, aku mendengar Nu'man bin Basyir berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

أَلَا وَإِنَّ فِي الۡجَسَدِ مُضۡغَةً إِذَا صَلَحَتۡ صَلَحَ الۡجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتۡ فَسَدَ الۡجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الۡقَلۡبُ. – رواه البخاري ومسلم
"Dan ketahuilah bahwa pada setiap tubuh ada segumpal daging yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut, apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, itulah hati." (H.R. Al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599).

Oleh sebab itu, jika seseorang telah merasakan hadirnya satu atau beberapa penyakit hati tersebut, hendaknya bersegera untuk mengobatinya sebelum bertambah parah.

يٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٧

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman." (QS. Yunus [10]: 57).

Obatilah penyakit hati tersebut dengan membaca dan tadabbur al-Quran, menghadiri majelis ilmu,  beramal shaleh serta menghindari lingkungan yang buruk.

Wallahu A'lam...

Post a Comment

0 Comments