Munculnya Mujaddid Tiap Akhir 100 Tahun


Hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبۡعَثُ لِـهَذِهِ الۡأُمَّةِ عَلَى رَأۡسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنۡ يُجَدِّدُ لَـهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang akan memperbaharui agama ini (dari penyimpangan).” (HR. Abu Daud: 4291, hadits ini shahih menurut As-Sakhawi dalam Al-Maqashid Al-Hasanah (149) dan Syaikh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah No. 599).

Peran utama sang mujaddid (pembaharu) yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah memperbaharui urusan agama. Artinya bukan membawa ajaran baru, melainkan menghidupkan dan menyerukan kembali ajaran Islam sesuai dengan al-Qur`an dan sunnah Nabi ﷺ yang telah banyak ditinggalkan oleh manusia. Ia akan menyebarkan ilmu yang benar, mengajak kepada tauhid dan sunnah Rasulullah ﷺ serta melarang dari perbuatan syirik dan bid’ah. (Lihat kitab Aunul Ma’bud, 11/260).

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Sesungguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia pada akhir setiap 100 tahun seseorang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah dan menghapuskan kedustaan (yang diada-adakan) dari Rasulullah .” (Imam adz-Dzahabi, Siyaru A’laamin Nubalaa’, 10/46).

Sebelum bertanya tentang siapa sosok mujaddid di abad ini, ada beberapa pertanyaan yang juga sangat penting untuk dijawab , yaitu:

  1. Kapan perhitungan tahunnya dimulai? Apakah saat kelahiran Nabi Muhammad ﷺ? Saat awal kenabian? Saat hijrah ke Madinah? Atau saat wafatnya Nabi Muhammad ﷺ?
  2. Makna dari kalimat “ رَأۡسِ كُلِّ مِائَةِ  ”, apakah berarti awal abad? Sepanjang satu abad? Atau pada akhir abad?
  3. Apakah kata “ مَنۡ  ” bermakna satu orang ataukah sebuah kelompok?
  4. Siapa saja Mujaddid yang telah muncul?

Kita akan mulai menjawab pertanyaan tersebut satu persatu.

Kapan perhitungan tahunnya dimulai?

Al-Munawi dalam Muqaddimah kitab Fathul-Qadir mengatakan: “masih diperselisihkan tentang ra`sul-mi`ah apakah dihitung dari kelahiran Nabi , tahun beliau diutus, tahun hijrah atau tahun beliau wafat…”

Namun pendapat yang dinilai rajih (kuat) adalah dimulai saat Nabi ﷺ hijrah ke Madinah. Karena peristiwa hijrah adalah peristiwa di mana Islam dan kaum Muslimin menjadi mulia, berjaya dan tegaknya Daulah Islamiyah.

Ketika Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat untuk menyepakati awal kalender, mereka bersandar pada awal peristiwa hijrah. Hal ini diriwayatkan oleh Ath-Thabari sebagai berikut:

حَدَّثَنِي عَبۡدُ الرَّحۡمَنِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عَبۡدِ الۡحَكَمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا نُعَيۡمُ بۡنُ حَمَّادٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الدَّرَاوَرۡدِيُّ، عَنۡ عُثۡمَانَ بۡنِ عُبَيۡدِ اللهِ بۡنِ أَبِي رَافِعٍ، قَالَ: سَمِعۡتُ سَعِيدَ بۡنَ الۡمُسَيِّبِ، يَقُولُ: جَمَعَ عُمَرُ بۡنُ الۡخَطَّابِ النَّاسَ، فَسَأَلَـهُمۡ، فَقَالَ: من أي يوم نكتب؟ فقال علي: من يوم هاجر رسول الله ﷺ، وَتَرَكَ أَرۡضَ الشِّرۡكِ، فَفَعَلَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.

Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Hakam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hamad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ad-Darawardi dari Utsman bin Ubaidullah bin Abi Rafi’, ia berkata: aku mendegar Sa’id bin al-Musayyib berkata: “Umar bin Khatthab mengumpulkan orang-orang dan menanyai mereka. Umar bertanya: “Dari hari apa kita tulis?” Ali berkata: “Dari hari Rasulullah hijrah dan beliau meninggalkan bumi kesyirikan”. Maka Umar radhiallahu ‘anhu melakukannya.”

Abu Ja’far (ath-Thabari) berkata: “mereka—para sahabat—menilai tahun hijriyah pertama dari Muharram tahun itu, yakni dua bulan beberapa hari sebelum Rasulullah datang ke Madinah karena Rasulullah sampai di Madinah pada tanggal 12 Rabi’ul Awal.”

Ada pula segolongan orang yang menghitung siklus 100 tahun ini dari runtuhnya Khilafah Turki Utsmani yang terjadi pada tanggal 3 Maret 1924 M. Mereka menyimpulkan bahwa Mujaddid akan muncul 100 tahun kemudian, yaitu tahun 2024. Akan tetapi argumen tersebut sangat lemah karena tidak sesuai dengan perhitungan kalender yang digunakan dalam Islam.

Mereka menghitungnya menggunakan kalender masehi (syamsiyah) bukan kalender hijriyah (qamariyah). Perhitungan kalender masehi sangat berbeda dengan tahun hijriyah. Dalam perhitungannya, kalender hijriyah akan selalu lebih cepat dibandingkan kalender masehi. Ilmu ini juga telah tercantum dalam al-Qur`an:

لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ ...  ٤٠


“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan...” (QS. Yasin [36]: 40).

Selisih antara kalender masehi dan hijriyah yaitu sekitar 11 hari setiap tahunnya. Sehingga setiap periode 100 tahun masehi, pada kalender hijriyah adalah 103 tahun—lebih cepat 3 tahun. Itu sebabnya dalam surah Al-Kahfi Allah berfirman:

وَلَبِثُواْ فِي كَهۡفِهِمۡ ثَلَٰثَ مِاْئَةٖ سِنِينَ وَٱزۡدَادُواْ تِسۡعٗا  ٢٥


“Dan mereka tinggal dalam gua mereka selama 300 tahun dan ditambah 9 tahun (lagi).” (QS. Al-Kahfi [18]: 25)

Berdasarkan perhitungan kalender masehi, mereka hanya tidur selama 300 tahun. Namun jika dihitung menggunakan kalender Islam, kalender qamariyah, maka hasilnya adalah 309 tahun. Itulah yang dimaksud oleh firman Allah “dan ditambah 9 tahun lagi” yaitu tambahan dari perhitungan tahun qamariyah.

Runtuhnya Khilafah Turki Utsmani menurut penanggalan hijriyah adalah 28 Rajab 1342 H. Maka seratus tahun berikutnya adalah tahun 1442 H yang sudah berlalu. Maka seharusnya sosok Mujaddid tersebut sudah wafat, atau setidaknya sudah tidak produktif lagi dalam dakwahnya.

Makna kalimat “ رَأۡسِ كُلِّ مِائَةِ  ”

Penafsiran yang rajih menjelaskan bahwa maknanya adalah akhir dari seratus tahun. Ia adalah orang yang alim, shaleh dan bertakwa, serta wafatnya pada akhir dari seratus tahun tersebut.

Penafsiran ini tentu berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih. Jumhur ulama mengatakan bahwa mujaddid yang muncul di akhir abad pertama adalah Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz. Beliau lahir tahun 61 H dan wafat pada tahun 101 H. Sedangkan mujaddid pada akhir abad kedua adalah Imam As-Syafi’i yang wafat tahun 204 H di usia 54 tahun.

Az-Zuhri, Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya diantara para imam terdahulu (salaf) dan yang belakangan (khalaf), mereka telah sepakat bahwa mujaddid abad pertama adalah Umar bin Abdul 'Aziz dan pada akhir abad kedua adalah imam Asy-Syafi’i.

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam At-Tawaliy At-Ta`sis mengatakan, Abu Bakar al-Bazar berkata, aku mendengar Abdul Malik bin Abdul Humaid al-Maymuni berkata: “Aku bersama Ahmad bin Hanbal lalu berlangsung mengingat Asy-Syafi’i lalu aku lihat Ahmad mengangkatnya dan berkata: diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُقَيِّضُ فِي رَأۡسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنۡ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمۡ


“Sesungguhnya Allah Ta’ala membatasi pada penghujung setiap seratus tahun orang yang mengajarkan masyarakat agama mereka.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Umar bin Abdul ‘Aziz pada penghujung abad pertama dan saya berharap Asy-Syafi’i pada abad yang lain (kedua).”

Dan dari jalur Abu Sa’id al-Firyabi, ia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata:

إِنَّ اللهَ يُقَيِّضُ لِلنَّاسِ فِي كُلِّ رَأۡسِ مِائَةٍ مَنۡ يُعَلِّمُ الناس السنن وينفي عن النبي الۡكَذِبَ فَنَظَرۡنَا فَإِذَا فِي رَأۡسِ الۡمِائَةِ عُمَرُ بۡنُ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ وَفِي رَأۡسِ الۡمِائَتَيۡنِ الشَّافِعِيُّ


“Sesungguhnya Allah membatasi untuk masyarakat pada setiap penghujung seratus tahun orang yang mengajarkan masyarakat sunan dan menafikan kedustaan dari Nabi. Dan kami melihat pada penghujung seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul ‘Aziz dan pada penghujung seratus tahun kedua adalah Asy-Syafii.”

Ibn ‘Adi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ali bin al-Husain berkata: “Aku mendengar ashhabuna mereka mengatakan, pada seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul ‘Aziz dan pada seratus tahun kedua adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafii.”

Al-Hakim telah menyebutkan dalam kitab Mustadrak dari Abu Al-Walid, ia berkata: "Aku ada di majelis Abu Al-‘Abbas bin Syuraih ketika seorang syaikh (orang tua) berdiri kepadanya memujinya lalu aku mendengar ia berkata: "Telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir al-Khawlani, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahbin, telah memberitahukan kepada kami Sa’id bin Abi Ayyub dari Syarahil bin Yazid dari Abu ‘Alqamah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبۡعَثُ عَلَى رَأۡسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنۡ يُجَدِّدُ لَـهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah mengutus pada setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui agamanya.”

“Maka bergembiralah wahai Al-Qadhi, sesungguhnya Allah mengutus pada penghujung seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul ‘Aziz, dan Allah mengutus pada penghujung seratus tahun kedua adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafii.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, ini menunjukkan bahwa hadits itu masyhur pada masa itu.

Apakah kata “ مَنۡ ” bermakna satu orang atau sebuah jamaah?

Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits itu adalah satu orang. Namun ada juga segolongan ulama yang berpendapat bahwa sang mujaddid ini tidak hanya satu orang, tapi bisa saja muncul lebih dari satu orang di waktu tertentu. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Hajar Al-Atsqalani dan ulama lainnya. (Lihat kitab Aunul Ma’bud, 11/264).

Siapa saja mujaddid yang telah muncul?

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa mujaddid di akhir abad pertama hijriyah adalah Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz, sedangkan di akhir abad kedua adalah Imam Asy-Syafi’i.

Umar bin Abdul ‘Aziz bin Marwan bin Hakam adalah seorang khalifah ke-8 dari Dinasti Umayyah yang menjabat selama sekitar 2,5 tahun. Beliau adalah Amirul Mukminin yang adil, Imam Tabi’in dan juga penghafal hadits. Beliau juga merupakan cicit dari Khalifah Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu dari garis ibunya yang bernama Laila binti ‘Ashim bin Umar bin Khatthab.

Kebaikan akhlak serta keadilannya dalam memimpin disejajarkan dengan kakeknya, yaitu Khalifah Umar bin Khatthab, sifat zuhud-nya disejajarkan dengan Imam Hasan Al-Bashri, dan dalam keluasan ilmunya disejajarkan dengan Imam Az-Zuhri. (Imam Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffazh, 1/119).

Imam Asy-Syafi’i sendiri berkata: “Al-Khulafa’ ar-Rasyidun (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk dan bimbingan Allah Ta’ala) ada lima orang: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz.” (Imam Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffazh, 1/119).

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, beliau adalah imam besar di kalangan atba’ut-tabi’in (murid para tabi’in), seorang mujtahid, ahli di bidang fikih dan Ushul Fikih dan pendiri madzhab Syafi’i. Nasab beliau masih bertemu dengan Rasulullah ﷺ di Abdul Manaf.

Beliau menulis kitab Ar-Risalah yang merupakan kitab Ushul Fikih pertama yang pernah ditulis. Lalu ada pula kitab Al-Umm, Al-Hujjah dan kitab Jima’ul Ilmi.

Imam As-Suyuthi berkata: “Disepakati bahwa Asy-Syafi'i adalah peletak batu pertama ilmu ushul fikih yang lengkap dan independen. Dia orang pertama yang menulis ilmunya secara tersendiri.”

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Dulu, fikih itu terkunci pada ahlinya saja, hingga kemudian Allah membukakannya melalui Asy-Syafi'i.”

Dalam kitab Aunul Ma'bud (11/260-266) yang ditulis oleh Syariful Haq disebutkan ada 4 orang mujaddid di akhir abad pertama hijriyah, yaitu:
  1. Khalifah Umar bin Abdul 'Aziz (Lahir 64 H, wafat 101 H)
  2. Hasan Al-Bashri (Lahir 22 H, wafat 110 H)
  3. Muhammad bin Sirin, Abu Bakr Al-Anshari Al-Bashri (Wafat 110 H)
  4. Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah (wafat 125 H)
Sedangkan pada akhir abad kedua hijriyah adalah:
  1. Imam Asy-Syafi'i, Abu Abdillah Muhammad bin Idris (Lahir 150 H, wafat 204 H)
  2. Yahya bin Ma'in, Abu Zakariya Al-Baghdadi (Lahir 158 H, wafat 233 H)
Lalu sang mujaddid di akhir abad ketiga adalah Imam An-Nasa`i yang lahir pada tahun 215 H dan wafat pada tahun 303 H. (Lihat pula kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ (14/125) dan Taqriibut Tahdziib, hlm. 80).

Ada pula keterangan dari syair Imam Suyuthi yang berharap agar dirinya menjadi mujaddid untuk akhir abad ke-9:

فَكَانَ عِنۡدَ الۡمِائَةِ الۡأُولَى عُمَرۡ خَلِيفَةُ الۡعَدۡلِ بِإِجۡمَاعٍ وَقَرۡ...

وَالشَّافِعِيُّ كَانَ عِنۡدَ الثَّانِيَةِ لِمَا لَهُ مِنَ الۡعُلُومِ السَّامِيَةِ...

وَالۡخَامِسُ الۡحَبۡرُ هُوَ الۡغَزَالِي وَعَدّهُ مَا فِيهِ مِنۡ جِدَالِ...

وَالسَّابِعُ الرَّاقِي إلى المراقي بن دَقِيقِ الۡعِيدِ بِاتِّفَاقِ...

وَهَذِهِ تَاسِعَةُ الۡمِئِينَ قَدۡ أَتَتۡ وَلَا يُخۡلَفُ مَا الۡـهَادِي وَعَدۡ وَقَدۡ رَجَوۡتُ أَنَّنِي الۡمُجَدِّدُ فِيهَا فَفَضۡلُ اللهِ لَيۡسَ يُجۡحَدُ...


Pada abad pertama Umar bin Abdul ‘Aziz, khalifah yang adil, menurut ijma’ yang kokoh...
Dan Asy-Syafii pada abad kedua karena ia memiliki ilmu yang tinggi...
Dan kelima adalah Al-Habru, dia adalah Al-Ghazali dan penghitungan dia di dalamnya ada perdebatan...
Dan ketujuh adalah yang mendaki ke tempat tinggi Ibnu Daqiq Al-‘Aid menurut kesepakatan...
Dan abad kesembilan ini sudah datang dan tidak ditinggalkan al-hadi yang telah dihitung dan aku sungguh berharap bahwa aku menjadi mujaddid di dalamnya dan karunia Allah tidak bisa diperbaharui...

Setelah itu muncullah beragam pendapat dan spekulasi yang berbeda-beda tentang sosok mujaddid di abad-abad setelahnya.

Tulisan ini dibuat pada bulan Syawal 1442 H, artinya saat ini sudah mendekati pertengahan abad 15, sehingga pengaruh besar dari dakwah sang mujaddid tersebut akan terlihat sebelum memasuki tahun 1500 H. Kita tunggu saja.

Apakah Mujaddid yang akan muncul nanti adalah Mujaddid terakhir?

Mungkin Anda pernah mendengar tentang prediksi bahwa usia dunia ini hanya sampai di tahun 1500H—sebagaimana yang disebutkan oleh Imam As-Suyuthi. Jika ini benar, maka bisa saja yang akan muncul nanti adalah mujaddid terakhir. Dan jika prediksi itu benar, maka usia dunia ini hanya tinggal 58 tahun lagi. Namun pernyataan Imam As-Suyuthi itu telah disanggah oleh banyak ulama.

Belum lagi riwayat tentang turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam yang menurut hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam akan turun ke bumi dan hidup selama 40 tahun setelah membunuh Dajjal.

Jika prediksi Imam As-Suyuthi benar, maka Nabi Isa ‘alaihissalam akan turun pada sekitar tahun 1460 H, dan itu hanya sekitar 18 tahun dari sekarang (1442 H). Dan seharusnya pada tahun ini matahari sudah terbit dari barat, karena berdasarkan atsar dari Abdullah bin Amru bin Ash dikatakan:

يبقى الناس بعد طلوع الشمس من مغربـها مائة وعشرين سنة


“Setelah matahari terbit dari barat, manusia akan tetap eksis selama 120 tahun.” (As-Shan’ani, كم الباقي من عمر الدنيا)

Pendapat dan prediksi Imam As-Suyuthi tersebut memang telah membuat heboh dan memicu kontroversi di kalangan ulama. Bahkan banyak dari para ulama yang menganggap bahwa prediksi tersebut adalah perkara syubhat yang disandarkan pada atsar-atsar yang dha’if. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa pengetahuan tentang datangnya kiamat hanyalah milik Allah.

يَسۡ‍َٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا  ٦٣


“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 63)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

يقول تعالى مخبرًا لرسوله صلوات الله وسلامه عليه أنه لا علم له بالساعة وإن سأله الناس عن ذلك، وأرشده أن يردّ علمها إلى الله عز وجل اهـ .


“Allah mengabarkan kepada Rasulullah , bahwa beliau tidak ada pengetahuan tentang hari kiamat, di mana orang-orang bertanya tentang hal itu. Namun ilmu tentang hari kiamat dikembalikan kepada Allah.”

Prediksi tentang akhir zaman ini tidak hanya dikemukakan oleh Imam As-Suyuthi. Sebelumnya juga pernah muncul prediksi serupa yang diungkapkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari (wafat 310 H). Beliau mengatakan bahwa kehancuran dunia akan terjadi pada 500 tahun setelah kenabian. (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm. 449). Ternyata prediksi At-Thabari keliru.

Apa yang dikatakan oleh Imam As-Suyuthi tersebut juga hanya sekedar prediksi yang tidak bisa dijamin kepastiannya sehingga tidak bisa dijadikan acuan. Terlebih lagi jika bertolak belakang dengan dalil qath’i (jelas dan tegas) maka sebaiknya adalah tinggalkan perkara syubhat tersebut dan berpegang pada dalil qath’i, inilah jalan yang lebih selamat.

Selain itu, menyibukkan diri dalam memprediksi kiamat adalah perbuatan yang sia-sia yang tidak akan menambah pahala di sisi Allah. Yang paling utama adalah bukan mencari tahu kapan terjadinya kiamat, melainkan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat dan hari berbangkit.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa ada seorang laki-laki Badui bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ مَا أَعۡدَدۡتَ لَـهَا قَالَ مَا أَعۡدَدۡتُ لَـهَا مِنۡ كَثِيرِ الصَّلَاةٍ وَلَا صَوۡمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنۡتَ مَعَ مَنۡ أَحۡبَبۡتَ .


“Kapankah terjadinya hari kiamat ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Apa yang telah engkau persiapkan?” Laki-laki itu menjawab: “Persiapanku tidak banyak, baik itu shalat, puasa maupun sedekah, namun aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah berkata: “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (Shahih Al-Bukhari: 6171 dan Shahih Muslim: 2639).

Maka tidak ada faedahnya mengkaji, menghitung dan memprediksi kapan kiamat terjadi. Yang lebih penting adalah mengkaji dan mengintrospeksi diri sendiri sudah sejauh mana persiapan yang kita lakukan untuk menghadapi hari kiamat? Sudah sebanyak apa bekal yang kita kumpulkan untuk menghadap Allah?

Allahu A’lam...

* * *

Post a Comment

0 Comments