Berkata, Namun Tidak Melakukan


Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ  ٢

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. As-Shaff [61]: 2).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini adalah pengingkaran terhadap orang yang menjanjikan atau mengatakan sesuatu, lalu ia tidak memenuhinya. Oleh karena itu ada sebagian ulama Salaf (ulama terdahulu) yang berpendapat bahwa wajib secara mutlak bagi seseorang untuk menunaikan apa yang telah dijanjikannya tanpa memandang apakah berkaitan dengan kewajiban atau tidak.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam kitab tafsirnya telah menghimpun tiga pendapat tentang asbabun-nuzul ayat ini beserta dalil-dalil riwayat pendukungnya, yaitu:

Pertama, Allah mengecam sebagian orang beriman yang sangat ingin mengetahui amalan apa yang paling dicintai Allah. Namun setelah Allah menjawab melalui firman-Nya (QS. As-Shaff [61] ayat 4), mereka justru tidak mengamalkannya.

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِهِۦ صَفّٗا كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٞ مَّرۡصُوصٞ ٤

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan (shaff) yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Kedua, ayat ini turun berkenaan dengan adanya salah seorang sahabat yang membanggakan diri dengan berkata, “aku telah melakukan ini dan itu”, padahal dia belum pernah melakukannya.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini adalah kecaman terhadap orang munafik yang mengingkari janji mereka untuk membantu kaum muslimin.

Setelah menguraikan semua dalil dari ketiga pendapat tersebut, Imam ath-Thabari berkata:

Pendapat yang paling tepat menurutku adalah yang mengata-kan bahwa ini turun berkenaan dengan sekelompok sahabat yang ingin tahu amalan terbaik di sisi Allah dan mereka akan melaksanakannya, namun setelah diberitahu, mereka malas melaksanakannya.

Jika ayat ini turun berkenaan dengan orang munafik, maka tidak mungkin Allah menyeru “hai orang-orang yang beriman”. Jika diturunkan untuk orang beriman yang mengaku telah melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan, berarti ia telah berdusta, sedangkan karakter orang beriman tidak pernah berdusta.

Lantas bagaimana dengan seorang da’i yang mengajak untuk melakukan suatu ibadah (wajib maupun sunnah) sementara dirinya tidak mengamalkannya?

Sikap yang tepat adalah dengan mengikuti kaidah pepatah yang berbunyi:

اُنۡظُرۡ مَا قَالَ وَلَا تَنۡظُرۡ مَنۡ قَالَ

“Perhatikan apa yang disampaikan, jangan perhatikan siapa yang menyampaikannya.”

Tidak perlu melontarkan kritik dengan mengutip ayat ke 3 surat as-Shaff,

كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Kritikan semacam ini hanya akan menyudutkan dan menyurutkan semangat para da’i dan pengajar karena dituntut untuk menjadi “sempurna” dengan mengamalkan setiap kata yang diucapkannya. Karena sebagaimana konsensus umat, satu-satunya manusia yang sempurna, yang selalu selaras ide, ucapan dan perilakunya hanya Rasulullah ﷺ.

Meski demikian, seorang da’i harus tetap mawas diri sebelum berdakwah, terutama jika perilakunya bertolak belakang dengan ucapannya. Sangat tidak sesuai jika ada seorang penceramah yang berapi-api mengajak jamaahnya untuk meninggalkan kemewahan dunia sementara dirinya sendiri secara terang-terangan mengoleksi mobil-mobil mewah.

Demikian artikel tentang bagaimana menyikapi orang yang hanya berkata, namun tidak melakukan apa yang ia katakan. Semoga bermanfaat...

Allahu a’lam...

____________________

Sumber:

1. Tafsir ath-Thabari
2. Tafsir Ibnu Katsir

Unduh artikel ini dalam format buletin PDF ukuran A4: https://bit.ly/3RyT3aB

Atau dalam bentuk gambar:

Klik kanan pada gambar di bawah, buka link di tab baru, lalu simpan gambarnya.



Post a Comment

0 Comments