Sesudah Kesusahan Pasti Ada Kebahagiaan


“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirâh [94]:5-6).

Terhadap dua ayat ini, para mufasir sepakat bahwa ada makna istimewa yang menggembirakan kita semua. Yaitu, Allah berjanji bahwa setiap satu kesusahan atau kepedihan akan disediakan dua kebahagiaan. Luar biasa, kesusahan merupakan pintu masuk menuju dua kemudahan, dua kebahagiaan.

Kisah Nashruddin dapat menjadi penjelas dari janji ini. Nashruddin kedatangan tetangganya yang merasa kesal dititipi keponakannya yang nakal-nakal, “Rumahku sudah sempit, kini semakin ruwet oleh tingkah polah keponakanku. Nashruddin, beri saya nasihat!”

Nashruddin tersenyum dan memberi nasihat, “Ambillah dua ekor ayamku, peliharalah di dalam rumahmu itu!” Sang tetangga merasa kesal, tapi Nashruddin segera menyela, “Itulah caranya agar kamu mendapatkan rumah yang luas!” Sang tetangga menurut dan membawa dua ekor ayam yang harus dipelihara di dalam rumahnya yang sempit.

Dua hari kemudian, tetangga itu datang lagi dengan wajah yang lebih kesal karena rumahnya semakin sempit. Nashruddin justru sudah menyiapkan dua ekor kambing. “Bawalah!” Tetangga itu kembali dengan dua ekor kambing. Dua hari kemudian, tetangga itu kembali mengeluh dan dijawab dengan dua ekor sapi yang harus dipelihara di dalam rumahnya yang sudah amburadul.

Dua hari kemudian, tetangga itu mendapat surat dari Nashruddin agar mengembalikan ayam. Sang tetangga merasa senang, satu masalah telah hilang. Lalu, berturut-turut dia diminta mengembalikan kambing dan sapi. Beberapa hari kemudian, tetangga itu datang dengan wajah berseri-seri, “Terima kasih Sahabatku. Rumahku kini sangat-sangat luas. Dan keponakanku itu ternyata makhluk paling lucu dan menyenangkan di dunia ini!”

Nah, sahabat, setelah satu kesusahan tetangga Nashruddin itu mendapat dua kebahagiaan. Pertama, dia menemukan kesadaran bahwa sempit dan luasnya rumah bukan didasarkan pada ukuran, melainkan pada cara pandang. Ayam, kambing dan sapi telah melatihnya dalam menemukan cara pandang baru itu. Cara pandang tetap bahagia di tengah kesusahan. Kedua, dia menemukan kesadaran bahwa keponakannya adalah makhluk yang tidak layak dibenci. Tentu saja, dibandingkan dengan ayam, kambing, dan sapi, para keponakannya lebih lucu dan menyenangkan.

Sesungguhnya, kisah ini hanya ilustrasi. Dua kebahagiaan yang dijanjikan Allah adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jalaluddin Rumi berkata, “Agar buah mangga bisa dinikmati, kulitnya harus bersedia dikupas. Untuk menjadi matang, buah mangga harus rela mengubah seluruh bagiannya menjadi lebih kuning atau merah, lebih lembek dari kondisi sebelumnya. Ini bukan proses yang mudah, tapi itulah satu-satunya cara agar ia dapat memberikan kebahagiaan kepada yang lain."

Saat jalan yang kita tempuh menjadi sempit, usaha gagal, harapan putus, yakinlah bahwa kemudahan akan tercapai dan kegembiraan akan datang. Janganlah bersedih karena sesungguhnya setelah kefakiran ada kekayaan, setelah sakit ada kesembuhan, setelah cobaan ada ada pertolongan, setelah sempit ada lapang, setelah sedih ada kegembiraan.

Kisah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Makkah dipenuhi kepedihan dan penderitaan. Beliau bahkan pernah dilempari kotoran unta dan juga diludahi. Kisah di Madinah pada awalnya juga penuh dengan kesusahan. Baru setelah beberapa lama, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuai kebahagiaan, kembali ke Makkah dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian.

Atau sekali-kali berjalanlah ke fitness centre, ada banyak orang yang menginginkan kebugaran badan. Untuk tujuan itu, mereka rela berpayah mengangkat beban atau melakukan gerak senam. Lihat keringat memenuhi sekujur tubuh. Semua itu adalah kesusahan yang sengaja diciptakan karena mereka sadar bahwa dibalik kesusahan itu akan mendapatkan kebugaran, badan yang tetap prima, kulit yang kencang nan segar, dan kesegaran yang tiada tara.

Yakinlah bahwa setiap satu kesedihan disediakan dua kemudahan. Sesungguhnya hal-hal tersebut merupakan aturan tetap. Bersama kesukaran ada kemudahan, jadi, La tahzan! (jangan bersedih). Setelah malam, pasti ada fajar; dibelakang gunung kesulitan ada dataran untuk istirahat, di balakang sahara semit ada taman hijau yang luas. Yakinilah, akan datang sahabat yang pergi, akan sembuh sahabat yang sakit, akan tertolong orang yang mendapat cobaan, akan dilepaskan orang yang dipenjara, akan kenyang orang yang kelaparan.

“Sesungguhnya, Kami memberikan kepadamu kebahagiaan (kemenangan) yang nyata.” (Qs. Al-Fath [48]:1)
____________________
Sumber: Qamaruzzaman Awwab, La Tahzan for Teens; Menjadi Remaja Bebas Stres ‘N Selalu Happy.

Post a Comment

0 Comments